Thursday, March 31, 2011

ENGKAU SEPERTI HATIM

Sekurangnya, untuk di zamannya tak ada yang tidak mengenalnya. Saking masyhurnya, sampai-sampai ia ditahbis sebagai matsal atau permisalan. Hingga mereka yang mukim di negeri jauh terpaksa mati penasaran karena ingin menyaksikan sendiri sosok pribadi itu. Tak kering dawat para penyair menggoret bait-bait kemuliaannya. Iring-iringan kafilah pun, sepanjang safarnya, tak lelah mendendangkan syair-syair kedermawanannya.

Hatim at-Thoiy. Lengkapnya Hatim bin Ubaid bin Sa’ad at-Thoiy. Pemuka kabilah Thoiy. Hidup dipertengahan akhir abad ke-6 Masehi dan wafat tahun ke-8 kelahiran Nabi. Beliau memiliki kemuliaan berlimpah. Menghormati kebebasan, berani, adil, santun, dan yang paling istimewa hingga mengantar namanya membumbung harum adalah sifat dermawan yang unik. Tak dibiarkan seorang pun kembali dari rumahnya bertangan kosong. Olenya, wajar jika ia selalu menjadi gemintang bagi gemerlap syair para pujangga. Luar biasanya, ketenarannya tidak hanya di negeri Timur. Bahkan seantero daratan Barat pun mengenal sebuah istilah “Engkau seperti Hatim”, kala menyaksikan seorang yang dermawan.

Ah, bercerita tentang Hatim at-Thoiy, ibarat mengayuh di tengah samudra. Susah, dan entahlah, harus memulai dari mana. Sebab tak ada satu kemuliaan melainkan ia berada padanya… Makanya dalam kesempatan ini aku hanya ingin mengorek satu sifat mulia beliau, yakni memuliakan tamu. Seorang ahli sejarah, Herbelot mengisahkan…

Syahdan, Kaisar Yunani sangat menginginkan seekor kuda putih yang anggun dan perkasa. Dari ciri yang diutarakan, ia tak sembarang bisa ditemukan. Suatu hari ia mendengar kabar, bahwa kuda idamannya itu ada pada Hatim at-Thoy pemimpin salah satu kabilah Arab. Saat itu juga sang kaisar mengirim utusannya ke semenanjung Arabiyah, bertemu Hatim dan membeli kuda anggun miliknya. Ternyata, saat sang utusan itu tiba di kabilah Hatim, kondisi materi beliau sedang surut. Padahal, kedatangan tamu bagi beliau, ibarat sebuah Hari Raya…

Seperti biasa sambutan Hatim begitu hangat. Sehangat senyum dan tutur katanya yang lembut nan santun. Beberapa saat kemudian, keluarlah aneka masakan dan daging yang menggelitik selera. Tidaklah sebuah wadah kosong, melainkan saat itu juga budak-budak hatim memenuhinya dengan aneka makanan. Keadaan itu berlangsung hingga utusan itu selesai menunaikan hajat perutnya.

“Maafkan kami. Kalau boleh tahu, apa gerangan hajat tuan menemui kami?”, Tanya Hatim pelan.

“Oh,, maaf, aku sampai lupa perkenalkan diri. Aku utusan Kaisar Yunani untuk bertemu Anda”, ujar sang utusan seraya memperbaiki posisi duduknya.

“Kaisar Yunani?, Oh ya, ada apa gerangan hingga kaisar yang mulia mencari diriku?”, Tanya Hatim sedikit penasaran.

“Hmm, begini. Kaisar mendengar bahwa Anda memiliki seekor kuda putih anggun lagi perkasa”, lanjut sang utusan.

“Iya, benar tuan, aku memeliharanya sejak lama. Ia adalah kuda kesayanganku”.

“Nah, untuk itulah aku datang. Sang kaisar ingin membeli kuda itu. Berapapun harga yang engkau minta…”.

Hatim at-Thoiy tersenyum. “Wahai tuan, sungguh, saat tuan tiba tak ada sesuatu yang istimewa dapat kami hidangkan. Satu-satu yang dapat kami sembelih hari ini hanya kuda putih kesayanganku itu...

"Ja..Jadi...?, blum sempat utusan itu berkata, Hatim pun menyela, "Yah, daging yang tuan santap tadi adalah daging kuda putih kesayangan kami yang diinginkan paduka Kaisar….”, jawab Hatim ringan....

Dan masih banyak lagi kisah unik Hatim at Thoiy saat menjamu tamu yang terlipat dalam gelungan sejarah...

Nah, berkaitan dengan kisah ini, ada sebuah istilah masyhur di kalangan ulama. Bahwa setiap negeri punya adat dan kebiasaan masing-masing. Termasuk dalam perkara memuliakan tamu. Dan bangsa Arab, sejak dulu unggul dalam hal ini. Bahkan jauh sebelum semburat cahaya Islam menjelang. Sebab ia adalah warisan ajaran Nabiullah Ibrahim, yang kemudian diwariskan turun temurun pada setiap generasi...

Oh ya, aku punya satu pengalaman menarik berkaitan dengan tamu bertamu ini. Kejadiannya sekitar awal tahun 2001. Yakni saat aku mengantar kawan-kawan dari Sulawesi ke Bandung untuk menjadi peserta Daurah Tauhid (seminar) selama sepekan. Jumlahnya kurang lebih 5 orang.

Kami menginjakkan kaki di kota kembang sekitar pukul 21.30, setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dengan bus. Maklum saja, tol Jakarta Bandung saat itu belum kelar. Karena kemalaman, akhirnya kami menginap semalam di rumah seorang kawan.

Tak lama kemudian, pemilik rumah, seorang laki-laki paruh baya menyapa kami. “Adik-adik udah makan blum?”. Sebuah pertanyaan sederhana dan biasa. Aku pun tidak merasa ada sesuatu yang luar biasa. Namun tidak untuk kawan-kawan dari Sulawesi. Mereka nampak kaget dan gusar. Lalu serentak menyahut: “Alhamdulillah sudah pak…!!. Mendengar jawaban itu, tuan rumah langsung beranjak. “Ssstt, maksudnya sudah makan tadi siang…”, celetuk salah seorang kawan sambil tertawa. Maka jadilah hidangan malam itu hanya secangkir “teh berani”, teh minus temannya alias teh doang tanpa embel-embel.

Klimaksnya, pukul 23.00 mulailah perut kami menyenandungkan tembang-tembang sendu. Apalagi, di waktu malam udara kota Bandung dingin menggigit. Aku segera menemui tuan rumah dan minta izin keluar sebentar. “Lihat-lihat suasana malam kota Bandung, pak...”, begitu alasanku…

Setelah mutar-mutar sebentar akhirnya kami temukan warung “kentaki” kentara kaki, alias tenda pinggir jalan. Sambil menyantap nasi goreng, tak henti-hentinya kawan-kawan Sulawesi itu tersenyum dan tertawa mengingat peristiwa barusan. “Yah, setiap daerah punya kebiasaan masing-masing… mungkin demikianlah cara orang sini memuliakan tamu. Bedanya dengan kami, bertanya pada tamu untuk urusan makanan merupakan satu aib. Tamu itu disuguhkan saja. Perkara mereka sudah makan atau belum itu perkara nomor dua…”. Ujar seorang yang paling senior. Aku hanya tersenyum. Membenarkan apa yang diucap. Walau untuk ukuran kami pribadi peristiwa itu adalah sebuah perkara lumrah dan biasa. Mungkin lantaran aku telah lama berbaur dengan mereka....

Ala kulli hal, setiap negeri punya ciri dalam memuliakan tamu. Walau tentunya masih jauh dari Hatim at-Thoiy yang menganggap tamu ibarat sebuah Hari Raya, dimana ia akan menyembelih dan masak hidangan lezat. Dan yang utama, bahwa memuliakan tamu dalam syari'at kita termasuk tanda bagi kesempurnaan iman. Nabi s.a.w. bersabda: “Siapa yang beriman pada Allah dan RasulNya, hendaklah ia memuliakan tamunya”. Nah, jika saudara-saudara sekalian kebetulan kedatangan tamu orang Sulawesi, aku berani taruhan. Tanya pada mereka, “Sudah makan blum?”, pasti jawabannya sama. “Sudah…!”. Kendati dalam kondisi menahan beban lapar yang sangat. Mau coba…??


Makassar, 30 maret 2011

Rappung Samuddin (sumber)

No comments:

Post a Comment